Keamanan Jaringan Wireless LAN
Jaringan wireless atau yang dikenal dengan jaringan nirkabel memungkinkan
suatu perangkat (komputer, laptop, PDA, dll.) bisa terkoneksi ke jaringan tanpa
menggunakan kabel jaringan. Teknologi wireless adalah salah satu pilihan
yang tepat untuk menggantikan teknologi jaringan yang terdiri dari banyak kabel
dan merupakan sebuah solusi akibat jarak antar jaringan yang tidak mungkin
dihubungkan melalui kabel. Banyak keuntungan system WLAN, yaitu pengguna tidak
dibatasi ruang geraknya, tetapi dibatasi oleh jarak jangkauan pemancar.
Jaringan Wifi memiliki lebih banyak
kelemahan dibanding dengan jaringan kabel. Saat ini perkembangan teknologi wifi
sangat signifikan sejalan dengan kebutuhan sistem informasi yang mobile. Banyak
penyedia jasa wireless seperti hotspot komersil, ISP, Warnet, kampuskampus
maupun perkantoran sudah mulai memanfaatkan wifi pada jaringan masing masing,
tetapi sangat sedikit yang memperhatikan keamanan komunikasi data pada jaringan
wireless tersebut. Hal ini membuat para hacker menjadi tertarik untuk
mengexplore keamampuannya untuk melakukan berbagai aktifitas yang biasanya
illegal menggunakan wifi.
Pada materi ini akan dibahas
berbagai jenis aktivitas dan metode yang dilakukan para hacker wireless ataupun
para pemula dalam melakukan wardriving. Wardriving adalah kegiatan atau
aktivitas untuk mendapatkan informasi tentang suatu jaringan wifi dan
mendapatkan akses terhadap jaringan wireless tersebut. Umumnya bertujuan untuk
mendapatkan koneksi internet, tetapi banyak juga yang melakukan untuk
maksud-maksud tertentu mulai dari rasa keingintahuan, coba coba, research,
tugas praktikum, kejahatan dan lain lain.
Kelemahan jaringan wireless secara
umum dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni kelemahan pada konfigurasi dan
kelemahan pada jenis enkripsi yang digunakan. Salah satu contoh penyebab
kelemahan pada konfigurasi karena saat ini untuk membangun sebuah jaringan
wireless cukup mudah. Banyak vendor yang menyediakan fasilitas yang memudahkan
pengguna atau admin jaringan sehingga sering ditemukan wireless yang masih
menggunakan konfigurasi wireless default bawaan vendor. Penulis sering
menemukan wireless yang dipasang pada jaringan masih menggunakan setting
default bawaan vendor seperti SSID, IP Address , remote manajemen, DHCP enable,
kanal frekuensi, tanpa enkripsi bahkan user/password untuk administrasi
wireless tersebut.
WEP (Wired Equivalent Privacy) yang
menjadi standart keamanan wireless sebelumnya, saat ini dapat dengan mudah
dipecahkan dengan berbagai tools yang tersedia gratis di internet. WPAPSK dan
LEAP yang dianggap menjadi solusi menggantikan WEP, saat ini juga sudah dapat
dipecahkan dengan metode dictionary attack secara offline.
Kelemahan Wireless pada Lapisan
Fisik Wifi menggunakan gelombang radio pada frekwensi milik umum yang bersifat
bebas digunakan oleh semua kalangan dengan batasan batasan tertentu. Setiap
wifi memiliki area jangkauan tertentu tergantung power dan antenna yang
digunakan. Tidak mudah melakukan pembatasan area yang dijangkau pada wifi.
A. Jenis Serangan pada WLAN
Hacker biasanya mencari jaringan WLAN untuk menonaktifkan atau berusaha
untuk mendapat akses ke jaringan WLAN melalui beberapa cara. Beberapa tipe
serangan yang sering dilakukan meliputi hal-hal sbb :
a). Jamming
b). Passive attacks
(eavesdropping)
c). Active attacks (conneting,
probing dan configuring network)
d). Man-in-the-middle attacks
a. Jamming
“Denial of Service Attack/ DOS Attack”
mudah untuk diterapkan ke dalam jaringan wireless. Dimana penyerang
membangkitkan satu frekuensi yang sama dengan frekuensi WLAN dengan daya
(power) yang lebih besar daripada daya WLAN eksisting. Dengan demikian sistem
WLAN seolah-olah mendapatkan noise yang besar dari luar sehingga komunikasi
antara AP dan client tidak bisa dilakukan (terputus). Gambar di bawah
mengilustrasikan bagaimana seorang jammer dengan mengunakan High Power RF
Signal Generator melakukan jamming.
Disamping itu penyerang juga bisa memanfaatkan
hardware standard seperti PDA/notebook yang telah dilengkapi dengan wireless
card untuk mengacaukan trafik WLAN dalam radius tertentu.
b. Passive attacks (eavesdropping)
Passive attacks merupakan teknik yang paling simple dilakukan oleh seorang
penyusup (intruder). Cukup komputer atau PDA yang telah dilengkapi dengan WLAN
card, penyusup dapat melakukan passive attacks. Agar penyusup tidak mudah
diketahui oleh admin WLAN, maka jarak (lokasi) penyusup dengan jaringan WLAN
harus cukup jauh. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menambahkan antena
directional yang disambungkan dengan WLAN card di komputer penyusup. Biasanya
penyusup melakukan passive attacks di area parkir.
Bagi admin jaringan WLAN eksisting, penyusup dengan kategori ini tidak
terlalu berbahaya karena tidak merusak jaringan. Namun bagi perusahaan akan
sangat merugikan karena akan mengetahui informasi-informasi yang ada di
jaringan intranetnya yang sebetulnya hanya boleh diakses oleh karyawan
setempat.
c. Active
Attacks
Active attacks lebih berbahaya dibanding dengan passive attacks. Disamping
bertujuan untuk masuk ke jaringan WLAN, attacker akan berusaha mengambil
confiential data bahkan mungkin merusak jaringan. Attaker akan mengoprek sampai
ke level admin jaringan WLAN sehingga dapat melakukan perubahan konfigurasi
layaknya seorang admin. Dampaknya dari tipe attaker tidak sebatas pada jaringan
WLAN saja, namun bisa melebar ke seluruh jaringan termasuk wiredLANnya.
Kemungkinan mengirim virus atau Trojan sudah sangatlah mudah untuk attacker
tipe ini. Sebagai gambaran dari active attacks seperti terlampir.
d. Man in
the middle Attacks
Man in the middle attacks di sini adalah seorang
attacker memotong jalur di tengah antara AP dan client. Disamping dia terhubung
ke AP yang asli dia juga berfungsi sebagai AP bagi client yang legitimate.
Syarat dari attacker tipe ini adalah :
Ø Harus mempunyai komputer yang
memiliki 2 (dua) WLAN card, satu untuk tersambung ke AP yang asli dan yang
kedua untuk melayani client yang awalnya tersambung ke AP yang asli tersebut.
Ø Harus mengetahui SSID (network
name) AP yang asli atau yang client gunakan.
Ø Harus mempunyai software AP yang
dipasang di komputer
Ø Sinyal yang diterima di komputer
attacker harus lebih besar daripada yang diterima oleh client
Keuntungan bagi attacker tipe ini disamping akan memperoleh data yang
diinginkan juga akan memperoleh kecepatan yang maksimum. Gambar dibawah merupakan ilustrasi dari keterangan di atas
B. Teknik Mengamankan Jaringan Wireless LAN
Beberapa Teknik Keamanan yang
digunakan pada Wireless LAN Dibawah ini beberapa kegiatan dan aktifitas yang
dilakukan untuk mengamanan jaringan wireless :
Menyembunyikan
SSID
SSID merupakan parameter pertama yang bisa digunakan untuk mengamankan wireless LAN. SSID merupakan 1 sampai 32 karakter alphanumeric yang digunakan untuk mengindentifikasi keanggotaan di sebuah access point di wireless local area network (WLAN)
Fungsi SSID
ini sangat mirip seperti nama network pada jaringan kabel. SSID inilah
yang merupakan garda terdepan untuk sistem keamanan jaringan wireless.
Untuk dapat mengakses access point yang menjadi pusat dari sistem jaringan
wireless, client harus mengetahui SSID yang digunakan oleh access
point yang terdekat. Namun demikian, SSID dapat dengan mudah diketahui oleh
pengguna lain selama SSID diatur pada setting “broadcast”. Dengan
setting semacam ini, siapa pun yang memiliki perangkat WLAN yang
cocok dapat masuk dengan cara melakukan pencarian access point terdekat
dengan metode pencarian sederhana yang dimiliki software utility yang
diinstal terpisah maupun pada sistem operasi.
Pada perangkat modern, metode pencarian access point dapat dengan
mudah menangkap access point terdekat, lengkap dengan nama SSID yang
digunakan sehingga pengguna yang tak terotorisasi pun dapat dengan mudah
terkoneksi ke dalam jaringan dengan mengatur alamat IP pada setting DHCP
(Dynamic Host Configuration protocol).Sehingga sebaiknya SSID yang baik
tidak
diberikan nama yang berhubungan dengan nama organisasi sehingga tidak menarik
perhatian penyusup. Selain itu juga status SSID dari access point tidak
di broadcast, dengan cara membuat status SSID broadcast menjadi disable
(non aktif). Sehingga pengguna yang ingin terkoneksi ke wireless harus
mengetahui SSID access point.
Banyak administrator menyembunyikan
Services Set Id (SSID) jaringan wireless mereka dengan maksud agar hanya yang
mengetahui SSID yang dapat terhubung ke jaringan mereka. Hal ini tidaklah
benar, karena SSID sebenarnya tidak dapat disembuyikan secara sempurna. Pada
saat saat tertentu atau khususnya saat client akan terhubung (assosiate) atau
ketika akan memutuskan diri (deauthentication) dari sebuah jaringan wireless,
maka client akan tetap mengirimkan SSID dalam bentuk plain text (meskipun
menggunakan enkripsi), sehingga jika kita bermaksud menyadapnya, dapat dengan
mudah menemukan informasi tersebut. Beberapa tools yang dapat digunakan untuk
mendapatkan ssid yang dihidden antara lain, kismet (kisMAC), ssid_jack
(airjack), aircrack , void11 dan masih banyak lagi.
Keamanan
wireless hanya dengan kunci WEP
WEP merupakan standart keamanan
& enkripsi pertama yang digunakan pada wireless, WEP memiliki berbagai
kelemahan antara lain :
● Masalah kunci yang lemah, algoritma RC4 yang
digunakan dapat dipecahkan.
● WEP menggunakan kunci yang bersifat statis
● Masalah initialization vector (IV) WEP
● Masalah integritas pesan Cyclic Redundancy Check
(CRC32)
WEP terdiri dari dua tingkatan,
yakni kunci 64 bit, dan 128 bit. Sebenarnya kunci rahasia pada kunci WEP 64 bit
hanya 40 bit, sedang 24bit merupakan Inisialisasi Vektor (IV). Demikian juga
pada kunci WEP 128 bit, kunci rahasia terdiri dari 104bit. Seranganserangan
pada kelemahan WEP antara lain :
1. Serangan terhadap kelemahan
inisialisasi vektor (IV), sering disebut FMS attack. FMS singkatan dari nama
ketiga penemu kelemahan IV yakni Fluhrer, Mantin, dan Shamir. Serangan ini
dilakukan dengan cara mengumpulkan IV yang lemah sebanyakbanyaknya.
Semakin banyak IV lemah yang diperoleh, semakin cepat
ditemukan kunci yang digunakan (www.drizzle.com/~aboba/IEEE/rc4_ksaproc.pdf)
2. Mendapatkan IV yang unik melalui
packet data yang diperoleh untuk diolah untuk proses cracking kunci WEP dengan
lebih cepat. Cara ini disebut chopping attack, pertama kali ditemukan oleh
h1kari. Teknik ini hanya membutuhkan IV yang unik sehingga mengurangi kebutuhan
IV yang lemah dalam melakukan cracking WEP.
3. Kedua serangan diatas membutuhkan
waktu dan p acket yang cukup, untuk mempersingkat waktu, para hacker biasanya
melakukan traffic injection. Traffic Injection yang sering dilakukan adalah
dengan cara mengumpulkan packet ARP kemudian mengirimkan kembali ke access
point. Hal ini mengakibatkan pengumpulan initial vektor lebih mudah dan cepat.
Berbeda dengan serangan pertama dan kedua, untuk serangan traffic
injection,diperlukan spesifikasi alat dan aplikasi tertentu yang mulai jarang
ditemui di tokotoko, mulai dari chipset, versi firmware, dan versi driver serta
tidak jarang harus melakukan patching terhadap driver dan aplikasinya.
MAC
Filtering
Hampir setiap wireless access point
maupun router difasilitasi dengan keamanan MAC Filtering. Hal ini sebenarnya
tidak banyak membantu dalam mengamankan komunikasi wireless, karena MAC address
sangat mudah dispoofing atau bahkan dirubah. Tools ifconfig pada OS Linux/Unix
atau beragam tools spt network utilitis, regedit, smac, machange pada OS
windows dengan mudah digunakan untuk spoofing atau mengganti MAC address.
Masih seringnya ditemukan wifi
di perkantoran dan bahkan ISP (yang biasanya digunakan oleh warnetwarnet) yang
hanya menggunakan proteksi MAC Filtering. Dengan menggunakan aplikasi
wardriving seperti kismet/kisMAC atau aircrack tools, dapat diperoleh informasi
MAC address tiap client yang sedang terhubung ke sebuah Access Point. Setelah
mendapatkan informasi tersebut, kita dapat terhubung ke Access point dengan
mengubah MAC sesuai dengan client tadi. Pada jaringan wireless, duplikasi MAC
adress tidak mengakibatkan konflik. Hanya membutuhkan IP yang berbeda dengan
client yang tadi.
Captive
Portal
Infrastruktur Captive Portal awalnya
didesign untuk keperluan komunitas yang memungkinkan semua orang dapat
terhubung (open network). Captive portal sebenarnya merupakan mesin router atau
gateway yang memproteksi atau tidak mengizinkan adanya trafik hingga user
melakukan registrasi/otentikasi.
Berikut cara kerja captive portal :
·
user dengan
wireless client diizinkan untuk terhubung wireless untuk mendapatkan IP address
(DHCP)
·
block semua
trafik kecuali yang menuju ke captive portal (Registrasi/Otentikasi berbasis
web) yang terletak pada jaringan kabel.
·
redirect
atau belokkan semua trafik web ke captive portal
·
setelah user
melakukan registrasi atau login, izinkan atau buka akses ke jaringan (internet)
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan, bahwa captive portal hanya melakukan tracking koneksi client
berdasarkan IP dan MAC address setelah melakukan otentikasi. Hal ini membuat
captive portal masih dimungkinkan digunakan tanpa otentikasi karena IP dan MAC
adress dapat dispoofing. Serangan dengan melakukan spoofing IP dan MAC.
Spoofing MAC adress seperti yang sudah dijelaskan pada bagian Mac Filtering
diatas. Sedang untuk spoofing IP, diperlukan usaha yang lebih yakni dengan
memanfaatkan ARP cache poisoning, kita dapat melakukan redirect trafik dari
client yang sudah terhubung sebelumnya.
Serangan lain yang cukup mudah
dilakukan adalah menggunakan Rogue AP, yaitu mensetup Access Point (biasanya
menggunakan HostAP) yang menggunakan komponen informasi yang sama seperti AP
target seperti SSID, BSSID hingga kanal frekwensi yang digunakan. Sehingga
ketika ada client yang akan terhubung ke AP buatan kita, dapat kita membelokkan
trafik ke AP sebenarnya. Tidak jarang captive portal yang dibangun pada suatu
hotspot memiliki kelemahan pada konfigurasi atau design jaringannya.Misalnya,
otentikasi masih menggunakan plain text (http), managemen jaringan dapat diakses
melalui wireless (berada pada satu network), dan masih banyak lagi.
Kelemahan lain dari captive portal
adalah bahwa komunikasi data atau trafik ketika sudah melakukan otentikasi
(terhubung jaringan) akan dikirimkan masih belum terenkripsi, sehingga dengan
mudah dapat disadap oleh para hacker. Untuk itu perlu berhatihati melakukan
koneksi pada jaringan hotspot, agar mengusahakan menggunakan komunikasi
protokol yang aman seperti https,pop3s, ssh, imaps dst.
Keamanan wireless hanya dengan kunci
WPAPSK atau WPA2PSK WPA merupakan teknologi keamanan sementara yang diciptakan
untuk menggantikan kunci WEP. Ada dua jenis yakni WPA personal (WPAPSK), dan
WPARADIUS.
Saat ini yang sudah dapat di crack
adalah WPAPSK, yakni dengan metode brute force attack secara offline. Brute
force dengan menggunakan mencobacoba banyak kata dari suatu kamus. Serangan ini
akan berhasil jika passphrase yang yang digunakan wireless tersebut memang
terapat pada kamus kata yang digunakan si hacker. Untuk mencegah adanya
serangan terhadap keamanan wireless menggunakan WPAPSK, gunakanlah passphrase
yang cukup panjang (misal satu kalimat). Tools yang sangat terkenal digunakan
melakukan serangan ini adalah CoWPAtty (http://www.churchofwifi.org/ ) dan
aircrack (http://www.aircrackng.org).
Tools ini memerlukan daftar kata
atau wordlist, dapat di ambil dari http://wordlist.sourceforge.net/
Wireless DMZ
Ide yang lain untuk menerapkan keamanan untuk segmen wireless LAN adalah
menciptakam WDMZ. Membuat WDMZ ini menggunakan firewall atau router biayanya
dapat bergantung pada level implementasi. WDMZS biasanya diterapkan di medium
dan large-scale LAN deployments. Karena pada dasarnya access point adalah alat
yang tidak aman dan tidak dipercaya, mereka harus terpisah dari segmen jaringan
lain oleh peralatan firewall. Dapat digambarkan pada gambar dibawah ini.
Firmware & Software Updates
Updetelah
firmware dan driver pada access point dan wireless card anda. Merupakan
keputusan yang tepat untuk menggunakan firmware dan driver terbaru pada access
point dan wireless card anda. Perusahaan-perusahaan sangat biasa mengalami
kesulitan untuk mengetahui isu, security hole dan mengaktifkan fitur baru
dengan melakukan update tersebut
Kesimpulan
Banyaknya wireless LAN yang aktif
dengan konfigurasi default akan memudahkan para hacker dapat memanfaatkan
jaringan tersebut secara ilegal. Konfigurasi default dari tiap vendor perangkat
wireless sebaiknya dirubah settingnya sehingga keamanan akses terhadap wifi
tersebut lebih baik. Keamanan jaringan Wireless dapat ditingkatkan dengan cara
tidak hanya menggunakan salah satu teknik yang sudah dibahas diatas, tetapi
dapat menggunakan kombinasi beberapa teknikteknik tersebut sehingga keamanan
lebih terjamin.
Tata letak wireless dan pengaturan
power/daya transmit sebuah Access Point juga dapat dilakukan untuk mengurangi
resiko penyalahgunaan wireless. Pastikan area yang dijangkau hanya area yang
memang digunakan oleh user.
Untuk solusi kemanan wireless dapat
menggunakan protokol yang sudah disediakan yakni WPA2Radius atau sering disebut
RSN/802.11i.
Ada beberapa
tips di sini untuk mengamankan wireless network dari serangan hack. Berikut
adalah beberapa tips untuk mengamankan jaringan wireless :
1.
Menggunakan Enkripsi. Enkripsi adalah ukuran security yang pertama,
tetapi banyak wireless access points (AP) tidak menggunakan enkripsi sebagai
default-nya. Meskipun banyak AP telah memiliki Wired Equivalent Privacy (WEP)
protocol, tetapi secara default tidak diaktifkan. WEP memang mempunyai beberapa
lubang di security-nya, dan seorang peretas yang berpengalaman pasti dapat
membukanya, tetapi itu masih tetap lebih baik dari pada tidak ada enkripsi sama
sekali. Pastikan untuk mengaktifkan metode WEP authentication dengan “shared
key” daripada “open system”. Untuk “open system”, AP tidak melakukan enkripsi
data, tetapi hanya melakukan otentifikasi client. Ubah WEP key sesering
mungkin, dan pakai 128-bit WEP hindari menggunakan 40-bit.
2. Gunakan
Enkripsi Kuat. Karena kelemahan-kelemahan yang ada di WEP, maka dianjurkan
untuk menggunakan Wi-Fi Protected Access (WPA) juga. Untuk memakai WPA, AP
harus men-support-nya. Sisi client juga harus dapat support WPA tersebut.
Namun, saat ini hampir semua Access Point maupun user/client sudah mendukung
WPA.
3. Ganti
Password Administrator standar. Kebanyakan pabrik menggunakan
password administrasi yang sama untuk semua AP produk mereka. Default password
tersebut umumnya sudah diketahui oleh peretas, yang nantinya dapat digunakan
untuk merubah setting di AP Anda. Hal pertama yang harus dilakukan dalam
konfigurasi AP adalah mengganti password default. Gunakan minimal 8 karakter,
kombinasi antara huruf, function dan angka, dan tidak menggunakan kata-kata
yang ada dalam kamus.
4. Matikan
SSID Broadcasting. Service Set Identifier (SSID) adalah nama dari
wireless network kita. Secara default, SSID dari AP akan di-broadcast atau
disiarkan. Hal ini akan membuat user mudah untuk menemukan network Anda, karena
SSID akan muncul dalam daftar available networks yang ada pada wireless client.
Jika SSID dimatikan, user harus mengetahui lebih dahulu SSID-nya agar dapat
terkoneksi dengan network.
5. Matikan
AP Saat Tidak Dipakai. Cara yang satu ini kelihatannya sangat mudah dan
remeh, tetapi beberapa perusahaan atau individual tidak melakukannya. Jika k
ita mempunyai user yang hanya terkoneksi pada saat saat tertentu saja, tidak
ada alasan untuk menjalankan wireless network setiap saat dan menyediakan
kesempatan bagi penyusup untuk melaksanakan niat jahatnya. Kita dapat mematikan
access point pada saat tidak digunakan.
6. Ubah
default SSID. Pabrik menyediakan default SSID. Kegunaan dari
mematikan broadcast SSID adalah untuk mencegah orang lain tahu nama dari
network kita, tetapi jika masih memakai default SSID, tidak akan sulit untuk
menerka SSID dari network kita.
7. Memakai
MAC Filtering. Kebanyakan AP akan memperbolehkan kita memakai filter
Media Access Control (MAC). Ini artinya kita dapat membuat “white list” dari
komputer-komputer yang boleh mengakses wireless network kita, berdasarkan dari MAC
atau alamat fisik yang ada di network card masing-masing PC atau laptop.
Koneksi dari MAC yang tidak ada dalam list akan ditolak. Metode ini tidak
selamanya aman, karena masih mungkin bagi seorang hacker melakukan sniffing
paket yang kita transmit via wireless network dan mendapatkan MAC address yang
valid dari salah satu user, dan kemudian menggunakannya untuk melakukan spoof.
Tetapi MAC filtering akan membuat kesulitan yang lumayan bagi seorang penyusup
yang masih belum jago banget.
8.
Mengisolasi Wireless Network dari LAN. Untuk memproteksi internal network
kabel dari ancaman yang datang dari wireless network, perlu kiranya dibuat
wireless DMZ (Demiliterize Zone) atau perimeter network yang mengisolasi dari
LAN. Artinya, memasang firewall antara wireless network dan LAN. Dan untuk
wireless client yang membutuhkan akses ke internal network, dia haruslah
melakukan otentifikasi dahulu dengan RAS server atau menggunakan VPN. Hal ini
menyediakan extra layer untuk proteksi.
9.
Mengontrol Signal Wireless. 802.11b WAP memancarkan gelombang
sampai dengan kira kira 300 feet. Tetapi jarak ini dapat ditambahkan dengan
cara mengganti antenna dengan yang lebih bagus. Dengan memakai high gain
antena, kita bisa mendapatkan jarak yang lebih jauh. Directional antenna akan
memancarkan sinyal ke arah tertentu, dan pancarannya tidak melingkar seperti
yang terjadi di antena omnidirectional yang biasanya terdapat pada paket AP
standard. Selain itu, dengan memilih antena yang sesuai, kita dapat mengontrol
jarak sinyal dan arahnya untuk melindungi diri dari penyusup. Sebagai tambahan,
ada beberapa AP yang bisa di setting kekuatan sinyal dan arahnya melalui config
WAP tersebut.
10. Memancarkan Gelombang pada Frekuensi yang Berbeda.
Salah satu
cara untuk bersembunyi dari peretas yang biasanya memakai teknologi 802.11b/g
yang lebih populer adalah dengan memakai 802.11a. Karena 802.11a bekerja pada
frekuensi yang berbeda (yaitu di frekuensi 5 GHz), NIC yang didesain untuk
bekerja pada teknologi yang populer tidak akan dapat menangkap sinyal tersebut.
Namun, tentu saja Anda akan mengalami penurunan kualitas kecepatan transmisi
data pada jaringan wireless Anda.
oke banget nih gan
ReplyDeletesolder uap